Friday, August 12, 2011

Launching Cerpen


Sang Caka

Kaki kecil itu tetap kokoh menapaki jalanan panas dan berliku di pinggir kota, menyusuri lorong demi lorong hanya untuk mencari serpihan barang bekas. Caka, begitu ia sering dipanggil. Berbeda dengan anak – anak yang lain, yang bisa tertidur pulas setelah pulang sekolah. Caka harus bekerja untuk mendapat upah yang hanya sebesar Rp.10000, itu pun kalau barang yang ia kumpulkan bisa mencapai satu karung penuh. Miris memang melihat kenyataan ini. Tapi,,,mau bagaimana lagi boleh dikatakan Caka adalah tulang punggung keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal. Caka harus mampu menghidupi dua orang adiknya sebagai amanat dari sang Ibu.
Keadaan ekonomi keluarga Caka dulu sangatlah berkecukupan. Tapi, itu berakhir setelah orang tuanya menjadi korban kebakaran di toko tempat mereka berjualan. Tak ada harta benda yang tersisa, toko itu pun belum sempat untuk diasuransikan. Rumah yang mereka tempati terpaksa dijual untuk menutupi hutang sang ayah kepada sang makelar. Memang, terkadang apa yang kita rencanakan tak sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Sanak keluarga yang lain hanya bias mengikhlaskan. Tetapi Caka tidak bias menerima itu semua, dia sempat trauma selama satu bulan mengingat apa yang terjadi dengan kehidupannya. Semuanya lenyap begitu saja, harta, kebahagiaan dan orang yang paling ia cintai.
Hanya ada tante Rum, satu – satunya saudara sang Ibu yang peduli dengan nasib ia dan adik – adiknya. Tapi itu pun tak berlangsung lama, karena tante Rum memiliki tanggungan yang banyak. Ia juga harus pontang – panting demi mencukupi kebutuhan anak – anaknya.
Takdir begitu kejam,,, itu yang selalu tertanam dalam benak Caka.
Sampai ia tersadar bahwa apa yang ia lakukan tidak akan membawa hasil apa – apa. Ia melihat sang adik, Heri dan Maya yang masih mengharapkan kasih sayang darinya. Yah…hanya dari dirinya.
Kalau dipikir, memang ini menjadi beban yang berat bagi seorang anak yang baru genap menginjak usia 12 tahun. Yang mau tidak mau, harus sudah siap menghadapi kerasnya hidup.
Dua tahun sudah, kejadian memilukan itu berlalu. Caka terlihat makin tegar dan tak mau memandang ke belakang lagi. Walau kehidupannya yang sekarang berbalik 180 derajat sebelum orang tuanya tiada.
Hei Caka…..ini banyak barang bekasnya??? Kenapa dilewatkan begitu saja??? Teriak lelaki paruh baya yang ternyata juga seorang pemulung seperti Caka.
Eh….ia pak Wayan, jawab Caka yang agak sedikit tersentak mendengar teriakan itu.
Caka tersadar dari lamunannya, sempat  ia kehilangan konsentrasinya. Tanpa  disadari tumpukan botol plastic ia lewati begitu saja.
Kamu kenapa??? Tak biasanya seperti ini….tanya pak Wayan yang sedikit iba bila melihat keadaan Caka.
Oh….gak apa – apa Pak, biasa semalam ada PR jadi begadang. Yah….bawaannya sekarang jadi ngantuk…..
Jangan terlalu dipaksakan, bapak masih bisa membantu walau tak seberapa. Jawab pak Wayan.
Oh…….tidak bisa, apa kata dunia kalau saya jadi lemah begini pak??? Jawab Caka dengan gaya yang sok kuat….
Hahahahha…..terdengar tawa di lorong sunyi itu. Itulah yang bapak salut darimu Nak, orang tuamu juga pasti akan bahagia melihat dirimu yang begitu kuat. Ujar pak Wayan seraya mengelus rambut Caka.
Ayo…..kita lanjutkan petualangan……semangat pak Wayan.
Sekarang tiba waktunya pulang. Sang adik heri, telah setia menuggu di gubuk kecilnya. Wajah yang selalu ceria melihat kedatangan sang kakak.
Kakak bawa apa???? Tanya Heri dengan polosnya.
Ini ada kue pemberian tante Rum…..bagi sama Maya ya,,,kakak tadi udah makan.
Assiikk……teriaknya kegirangan. May….maya ini ada kue dari kak Caka.
Kedua adik Caka memang masih terlalu dini untuk menyadari apa yang terjadi pada keluarga mereka.
Heri baru kelas 2 SD sedangkan Maya baru berusia 5 tahun. Caka tak sanggup untuk melibatkan mereka dengan kenyataan yang ada. Pahit yang dirasa hanya dipendam olehnya sendiri.
Caka hanya berprinsip bahwa Allah tidak akan memberi ujian melebihi kemampuan hamba-Nya.
Waktu berlalu begitu cepat, tak kurang dari satu semester lagi ia harus melanjutkan ke SMP. Kecemasan mulai timbul diraut wajahnya, karena ia harus mengeluarkan biaya. Berbeda dengan SD, yang diberi kebebasan dalam pembayaran iuran oleh pihak sekolah. Mustahil rasanya bagi Caka, mau minta bantuan dengan tante Rum ataupun pak Wayan rasanya tidak mungkin. Mau minta sama tante Rosi juga tidak mngkin. Karena ketiga sosok tersebut sudah terlalu banyak membantu, Caka tak mau merepotkan keduanya lagi. Apalagi mendengar pak Wayan yang selalu diceramahi sang istri apabila membantu dirinya.
Disaat teman – temannya sudah sibuk memilih sekolahan mana yang mau dituju, Caka tetap tersudut diam di kelas. Caka termasuk anak yang pandai, tapi karena masalah waktu dan tenaga yang sering terkuras, membuat ia sering lalai dalam kewajibannya yang satu ini.
Cak….cicak didinding,,,diam – diam menyudut….hahahhah???? ledek anak bertubuh besar bernama Yogi.
Yogi memang tidak pernah senang dengan caka, apalagi karena banyak yang menaruh simpati terhadap Caka termasuk orang tuanya yang selalu membanggakan semangat Caka.
Hei tukang sampah,,,,,jangan sok berpikir melanjutkan sekolah. Urus dulu kehidupanmu yang masih compang camping itu….ejeknya dengan tatapan penuh sinis.
Caka tetap diam,,,,,percuma meladeni Yogi yang hanya membuang tenaga. Ujarnya dalam hati.
Udah susah,,,,belagu pula……makin tinggi nada bicara Yogi.
Caka tetap pada posisinya. Diam tanpa kata sedikitpun.
Emosi Yogi makin menjadi – jadi,,,melihat Caka yang seperti tak mau tahu dengan apa yang ia ucapkan. Sekarang ia mulai main fisik,,,didorongnya tubuh Caka sampai ia tersungkur dilantai.
Caka bangkit dan berkata,,, aku tak mau mencari masalah apa – apa, kalau apa yang kau ucapkan membuat dirimu senang, lakukan saja. Aku tetap seperti ini, karena aku memang seperti ini.
Yogi terdiam,,,berjuta rasa berkecamuk didalam hatinya. Ingin ia muntahkan semua hawa panas yang ada ditubuhnya, hanya saja mulutnya terkunci rapat mendengar perkataan Caka.
Hening….kelas itu pun menjadi hening sampai pelajaran pun dimulai kembali.
Kembali Yogi menatap Caka,,, urusan kita belum selesai!!! dengan tatapan seperti elang yang siap menerkam anak ayam.
Sekolah pun usai…..Caka kembali menjalani rutinitasnya.
Yogi tetap menaruh dendam terhadap Caka, dibantingnya pintu kamar setelah ia sampai dirumah.
Kamu kenapa lagi Yogi??? Tanya sang ibu melihat kelakuan anaknya yang selalu bersikap kasar kalau ada suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Sudahlah ma……aku males dengerin ocehan mama. Mending mama urus diri mama sendiri. Teriak Yogi pada ibunya.
Sang ibu hanya diam dan meneteskan air mata setiap kali Yogi berlaku seperti itu. Tante Rosi adalah ibu Yogi, wanita yang baik dan selalu sabar dalam mendidik anaknya, hanya saja yang disayangkan sang Ibu mengalami gangguan penglihatan karena kecelakaan setahun yang lalu. Dan sampai sekarang belum ada pendonor yang tepat untuknya. Keluarga Yogi termasuk keluarga yang terpandang di kotanya, maklum sang ayah adalah seorang pengusaha property dan kost – kostan yang sudah memiliki banyak cabang.
Yogi mulai membuat rencana untuk memberi pelajaran pada Caka. Disusunnya rencana serapi mungkin bersama teman satu ganknya untuk mengerjai Caka malam nanti.
Yogi akan menakut – nakuti Caka sewaktu ia pulang bekerja. Dan disaat itu juga,,,aku akan kasih bogem mentahku tepat di mukanya yang belagu itu!!! Ucap Yogi penuh kebencian, biar dia sadar sedang berhadapan dengan siapa dia saat ini.
Rencana jahat itu didengar Rista, teman sekelas Caka yang tak sengaja lewat dari basecamp Yogi dan kawan – kawannya. Rista mulai panik dan terjatuh. Yogi sadar akan kehadiran seseorang diluar sana. Dengan cepat disergapnya tubuh Rista yang masih berusaha berdiri itu.
Oh….semenjak bergaul sama Caka, sekarang udah pinter nguping ya????
Rista diam ketakutan, mengingat betapa jahatnya anak yang ada didepannya ini. Berani kau membocorkan rencana kami,,,akan kubuat kau jadi bahan ejekan teman sekelas karena punya mulut ember!!!!!!!!
Iya….iya,,aku akan diam!!! Jawab Rista dengan bibir bergetar.
Rista mulai tak tenang, karena hari mulai gelap. Gelisah dengan apa yang didengarnya siang tadi…
Kamu kenapa sih Ris??? Tanya kakaknya yang melihat adiknya tak bisa diam dari tadi.
Anu…anu kak….sambil menggaruk – garuk kepalanya. Itu lho kak….
Anu…ini …itu apa??? Yang jelas dong dik. Sang kakak makin penasaran.
Caka kak….?????!!! Rista mulai tak mempedulikan ancaman Yogi tadi.
Caka bakal dikerjain sama Yogi pas ia pulang kerja.
Dikerjai bagaimana???? Kakaknya pun mulai ikut gusar.
Ia….dia bakalan dikeroyok sama Yogi gara – gara Caka gak mau tunduk sama dia.
Apa???? Sekarang Caka dimana??? Tanya kakaknya yang mulai geram dengan tingkah Yogi.
Biasanya,,,,dia lewat jalan anggrek kalo  mau pulang.
Kakak akan segera kesana,,,kamu jaga rumah sampai ayah dan ibu pulang.
Iya kak…..tolong gagalkan semua rencana jahat Yogi. Harap Rista terhadap kakaknya,,,kesian Caka kak….
Malam kian larut,,,Caka memang telat pulang malam itu karena ia keasikan ngobrol dengan pak Wayan. Setiba dipersimpangan, Caka berpisah dengan pak Wayan. Ia pulang menyusuri jalan seperti biasanya. Sambil bersiul – siul menikmati keindahan malam, tanpa ia sadari rombongan Yogi sudah tepat didepannya.
Caka pun kaget….Astaghpirullah,,,sambil mengusap – usap dadanya. Seperti melihat dedemit yang ada didepannya itu.
Apa maksudmu??? Makin berani yah!!!!!!!….bentak Yogi yang sudah tak bisa menahan emosinya lagi…….
Tidak….aku Cuma kaget dengan kehadiran kalian, ada apa ini???? Tanya Caka dengan polos.
Jangan sok – sok polos!!! Diluncurkan bogemnya tepat di wajah Caka, Caka pun tersungkur di aspal. Pengeroyokan itu dimulai. Tubuh kurus Caka tak mampu menahan serbuan anak – anak itu…..
Hahahaha……puas aku sekarang,,,seru Yogi dengan nada penuh kemenangan. Ini akibat anak yang tak tahu diri sepertimu.
Caka bangkit,,,karena ia merasa tak memiliki salah apa pun. Ia merasa, Yogi belum cukup dewasa menghadapi apa yang ia perbuat sekarang.
Masih berani bangkit!!! Gertak Yogi. Aku hanya ingin pulang menemui keluargaku. Jawab Caka dengan tubuh sempoyongan.
Biarin Yog…jawab temannya yang sudah merasa kasihan dengan keadaan Caka. Yogi tetap bersih keras dan menghadang jalan Caka,…
Tanpa disadari Yogi, truk container pengangkut batu bara tepat akan melintas dibelakangnya. Semua panik dan berteriak….Yogi???!!!!!! awas !!!!!
Dengan cepat Caka mendorong tubuh Yogi, direlakannya tubuh lemahnya itu menjadi lindasan truk. Caka terlempar jauh dan menghantam bebatuan dipinggir jalan. Truk tetap melaju kencang tanpa mempedulikan apa yang telah terjadi.
Semua terdiam…Yogi yang semula berkuasa kini hanya bias terperongoh melihat peristiwa yang terjadi didepan matanya. Mulutnya terkunci rapat.
Kesunyian itu pecah dengan datangnya deruan motor. Kakak Rista datang dan melihat kondisi Caka yang sudah berlumuran darah. Betapa kagetnya ia….melihat Caka yang terdiam kaku itu.
Apa yang sudah kalian perbuat!!!!! Bentaknya dengan penuh amarah.
Tak ada yang menjawab, pandangannya dialihkan ke arah Yogi. Apa yang kau perbuat!!!
Tetap tak ada yang menjawab….
Cepat – cepat ia larikan tubuh Caka ke rumah sakit dengan harapan Caka masih bisa diselamatkan.
Semuanya berkumpul di ruang tunggu ICU, adik – adik Caka tetap menanti penuh harapan bahwa kakaknya akan berkumpul lagi bersama mereka.
Orang tua Yogi pun tiba,,,malu,,,kecewa terhadap sikap anaknya. Ayah Yogi bahkan memeluk adik – adik Caka dan berkata “ Kakak akan bersama kita lagi”,,,kalian yang sabar menanti kakak….
Sungguh memilukan suasana saat itu. Yogi tersudut penuh penyesalan atas perbuatannya. Ia sadar betapa mulia jiwa yang dimiliki Caka. Betapa jahat dirinya, dendam dan kebencian terlalu menutupi mata hatinya.
Pa…..ucap Yogi. Papa hukum aku dengan apa saja. Kalau perlu bunuh saja aku pa!!! tangis Yogi makin menjadi – jadi.
Sang ayah tak berkata apa pun. Rasa kecewa menuntutnya untuk mengunci rapat mulutnya.
Dokter pun keluar,,,,semua menanti dengan wajah penuh harap.
Maafkan saya….ucap sang dokter. Caka hanya ingin bertemu dengan kalian. Dengan adik – adiknya.
Apa maksud dokter??? Ucap ayah Yogi.
Silahkan anda masuk pak,,,,jawab dokter dengan ekspresi datar.
Semua berkumpul diruangan itu,,, melihat sosok Caka yang semula periang kini tak punya daya apa – apa. Maafkan aku Caka,,,tangis Yogi memecah kesunyian.
Tak ada yang harus dimaafkan,,,,jawab Caka samar – samar.
Semua menatap Caka dengan air mata. Adik – adiknya,,, tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Caka. Kakak jangan pergi…..rengek sang adik melihat keadaan Caka yang seperti itu.
Kita masih bias main kan?????? Rengek maya….
Caka hanya tersenyum. Tante Rum, tak bisa menahan semuanya. Diciumnya kening sang keponakan yang tegar itu.
Tante,,,lirih Caka. Aku lelah…………….
Iya nak…tante tahu, kau sudah sangat bekerja keras.
Ayah Yogi menghampiri Caka. Nak,,,,,saya tidak akan memaafkan diri saya sendiri atas apa yang terjadi pada dirimu.
Tak perlu pak….tak ada yang harus bertanggung jawab. Ucap Caka yang mulai berat menarik nafasnya.
Suasana semakin menyayat. Sayangi adikku pak, ucap Caka. Saya janji,,,ucap ayah Yogi dengan cepat. Saya akan jaga adik – adikmu, mulai sekarang mereka menjadi anak – anak saya nak. Caka tersenyum,,,diusapnya kedua kepala adiknya.
Nanti kita akan berkumpul lagi yah…..kakak mau tidur sebentar saja.
Suasana haru semakin menyergap. Semuanya meneteskan air mata. Melihat Caka yang sekarang sudah terbujur kaku dengan senyuman di bibir kecilnya.
Pergilah dengan tenang nak………………..ucap ayah Yogi melepas kepergian Caka yang selama ini memang ia kagumi dengan semangat juangnya.
Beberapa bulan kemudian, wajah kecil adik – adiknya sudah dihiasi dengan keceriaan. Keluarga yang lengkap, dan Yogi sebagai sosok pengganti Caka.
Sang Ibu pun bisa melihat kembali,,,karena sebelum meninggal Caka sudah mendonorkan korneanya untuk Ibu Yogi yang selalu baik dengannya.
Benar – benar menjadi suatu keluarga yang utuh. Begitu banyak pelajaran yang diberikan oleh sosok seorang Caka. Ketulusan, kegigihan, dan kesabaran akan tetap membuahkan hasil yang begitu indah. Yang selalu indah pada waktunya.
Subhanallah……

*The End*

No comments: